ARTIKEL



MENUJU CAHAYA IMAN
Oleh. Nur Ariyanto, S.Sos.I

 
Saudaraku, dalam Qur’an Surat Al-Baqarah: 257 Allah telah berfirman:

اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
       
Yang artinya,
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Al-Baqoroh:257)

Terkait ayat di atas, Ibnu Katsir menjelaskan;  Allah  menceritakan bahwa Dia memberi petunjuk orang yang mengikuti jalan yang di ridhai-Nya ke jalan keselamatan. Untuk itu Dia mengeluarkan hamba-hamba-Nya yang mukmin dari kegelapan, kekufuran, dan keraguan menuju cahaya perkara yang hak, yang jelas lagi gamblang, terang, mudah dan bercahaya. Sementara orang-orang kafir itu penolong mereka adalah setan. Setanlah yang menghiasi mereka dengan kebodohan dan kesesatan. Setan mengeluarkan mereka dan menyimpangkan mereka dari perkara yang hak kepada kekufuran dan kebohongan.
Adapun mengenai kata thagut Abu Qasim Al- Baghawi meriwayatkan bahwa Umar r.a pernah mengatakan, “Sesungguhnya al-jibt adalah sihir, sedangkan thagut adalah setan”. Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim bahwasanya makna ucapan Umar tentang thagut – Bahwa taghut adalah setan – sangat kuat, karena pengertian tersebut mencakup segala bentuk kejahatan yang dilakukan oleh ahli jahiliah seperti menyembah berhala dan meminta keputusan hukum padanya serta membelanya.
Berdasarkan keterangan di atas kita dapat mengambil pelajaran, bahwasanya ketika kita telah beriman dan menjadikan Allah sebagai pelindung kita maka Allah akan mengeluarkan kita dari kegelapan menuju terang benderang. Sebaliknya, kalau kita ingkar kepada Allah, maka thagut (setan) yang akan memimpin kita dan melemparkan kita dari terang benderang ke dalam gulita kegelapan. Oleh karena pulalah ketika kita menghendaki pertolongan dan perlindungan Allah di tengah berbagai kegalauan hati dan topan kehidupan yang melanda, syaratnya kita harus senantiasa memperbaiki dan membenahi keimanan kita. Untuk itulah kita perlu mempelajari apa sebenarnya iman itu, dan seperti apa cirri-cirinya.

Iman dan beberapa cirinya.
Sebagian ahli mengatakan, yang di maksud dengan iman ialah mengucapkan dengan lisan, meyakini dalam hati dan mengamalkan dengan anggota badan, dan iman itu bertambah dengan ketaatan serta berkurang dengan sebab kemaksiatan.
Lebih lanjut, Abu Bakar Al-Jazairi mendefinisikan bahwa iman ialah pembenaran hati terhadap eksistensi Allah, rububiyah – Nya untuk segala sesuatu dan uluhiyah – Nya untuk orang-orang pertama dan orang orang terakhir dengan membenarkan segala apa yang di perintahkan oleh Allah agar beriman dan meyakini Allah, malaikat, beberapa kitab, para rasul, tempat kembali, pembalasan, nikmat, celaka, takdir (ketentuan) dan qadha (kepastian). Dalam hal ini Allah telah berfirman
                                                         
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ آمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِيَ أَنزَلَ مِن قَبْلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (Q.S. An-Nisa: 136)

Selain itu Imam muslim juga telah meriwayatkan sebuah hadits tentang iman ini dari Umar Alkhatab r.a,
 Seseorang bertanya kepada Nabi saw, tentang Iman. "Maka Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari penghabisan - kiamat - dan hendaklah engkau beriman pula kepada takdir, yang baik ataupun yang buruk - semuanya dari Allah jua." (HR. Muslim)

            Adapun untuk mengetahui ciri-ciri orang beriman ada baiknya kita tengok firman Allah dalam surat Al-Anfal: 2-3.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ,   الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ 
        Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”. (Al-Anfal: 2-3)

            Dari ayat tersebut kita bisa mengambil pelajaran tentang beberapa ciri orang yang beriman, diantaranya adalah;

  1. Ketika di sebut nama Allah hatinya bergetar.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa orang munafik itu tiada sesuatu dari sebutan nama Allah yang dapat mempengaruhi hati mereka untuk mendorong mereka mengerjakan hal-hal yang di fardhukan-Nya. Mereka sama sekali tidak beriman kepada sesuatupun dari ayat Allah, tidak bertawakal, tidak shalat apabila sendirian, dan tidak menunaikan zakat harta bendanya. Maka Allah menyebutkan bahwa mereka bukan orang-orang yang beriman. Kemudian Allah SWT menyebutkan sifat orang mukmin firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka”. (Al-Anfal:2)

Oleh karena itu, maka mereka mereka mengerjakan yang di fardukan.
Sementara itu Mujahid mengatakan bahwa orang mukmin itu ialah orang yang apabila di sebut nama Allah hatinya gemetar takut kepada-Nya. Hal yang sama dikataka oleh As-Saddi.
Sementara itu terkait ayat di atas Sufyan Ats-Tsauri mengatakan ia mendengar dar As-Saddi, maksudnya ialah seorang laki-laki yang apabila ia hendak berbuat aniaya (dosa) atau hamper berbuat maksiat, lalu di katakana kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah!” maka gemetarlah hatinya (dan membatalkan perbuatan aniaya atau maksiatnya).

  1. Ketika di bacakan ayat-ayatNya imannya bertambah.

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً
Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya)”. (Al-Anfal:2)

Maksudnya ialah, kepercyaan mereka bertambah tebal dan mendalam. Hal ini sama dengan firman Allah:
وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـذِهِ إِيمَاناً فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. (At-Taubah:124)

Imam bukhari dan lain-lainnya dari kalangan para Imam mengambil kesimpulan dalil dari ayat ini dan ayat-ayat lain yang semakna, bahwa iman itu dapat bertambah (dan dapat berkurang), serta iman itu dalam hati mempunyai grafik naik dan turun. Demikian juga menurut madzhab jumhur ulama, bahkan ada yang mengatakan bahwa hal ini telah di sepakati, sebagaimana telah dikatakan oleh Imam syafi’i, Imam Ahmad ibnu Hambal, dan Abu Ubaid.

  1. Bertawakal pada Allah.

وعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (Al-Anfal:2)

Maksud dari ayat ini ialah yakni mereka tidak mengharapkan kepada selain-Nya, dan tidak bertujuan kecuali hanya kepada-Nya. Mereka tidak berlindung kecuali pada naungan-Nya, tidak meminta keperluan-keperluan mereka selain hanya kepada-Nya, mereka tidak suka kecuali hanya kepada-Nya. Dan mereka mengetahui bahwa apa yang di kehendaki-Nya pasti terjadi, dan apa yang tidak di kehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi. Dialah yang mengatur kerajaan-Nya, hanya dia semata. Tiada sekutu bagi-Nya, tiada akibat dari keputusan hukum-Nya, dan Dia maha cepat perhitungan-Nya. Karena itulah Saad bin Zubair mengatakan bahwa tawakal kepada Allah merupakan induk keimanan.

  1. Mendirikan shalat.

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَالَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ
“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat”. (Al-Anfal:3)

Melalui ayat ini Allah Swt. menyinggung amal perbuatan mereka yang beriman, setelah menyebutkan perihal keyakinan dan akidah mereka. Amal perbuatan ini ini mengandung semua kewajiban, yaitu mendirikan shalat yang merupakan hak Allah Swt. Sehubungan dengan hal ini Qatadah mengatakan bahwa mendirikan shalat ialah memelihara waktu-waktu penunaiannya, wudhunya, rukuk dan sujudnya.
Sementara itu Muqatil ibnu Hayyan mengatakan, mendirikan shalat artinya memelihara waktu-waktu penunaiannya, menyempurnakan bersucinya, melakukan rukuk dan sujudnya dengan sempurna, membaca Al-Qur’an di dalam-Nya, serta membaca tasyahud dan salawat untuk Nabi Saw.


  1. Menafkahkan sebagian dari rizki yang Allah berikan kepadanya (di jalan  Allah).
Selain mendirikan shalat, dalam surat Al-Anfal ayat 3 di sebutkan pula sifat orang beriman lainnya yaitu menafkahkan sebagian dari rizki yang Allah berikan kepada mereka. Hal ini sebagaimana firman-Nya:
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
“Dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (Al-Anfal:3)

Yang termasuk dalam menafkahkan harta di jalan Allah ini diantaranya ialah mengeluarkan zakat dan semua hak-hak hamba Allah, baik yang wajib maupun yang sunah. Semua makhluk adalah tanggungan Allah, maka orang yang paling di sukai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi makhluknya.

Memelihara Iman.
 
Sebagai seorang muslim kita wajib mensyukuri kenikmatan berupa iman yang tertanam di dada. Karena sesungguhnya nikmat yang paling besar yang Allah anugerahkan kepada kita ialah Dia telah menunjukkan kita kepada iman, yang dengan bekal iman itulah kita akan selamat dalam kehidupan di dunia dan akherat.
Kita juga wajib bersyukur atas di utusnya nabi besar Muhammad Saw. sebagai pembawa risalah Islam, tentu saja dengan meneladaninya. Tidak semua orang memperoleh kesempatan mendapatkan nikmat seperti yang kita dapatkan ini. Betapa besar manfaat yang telah di sampaikan oleh rasulullah. Barang siapa yang berkeyakinan akan beroleh petunjuk dengan petunjuk selain Allah yang telah mengutus nabi Muhammad, maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah tidak akan menerima darinya amalan wajib dan sunnahnya. Dia tidak mau menyucikannya dari dosa-dosa, serta baginya adzab yang pedih.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim di sebutkan:

“ Demi tuhan yang diri Muhammad berada di genggaman kekuasaan-Nya, tidaklah seseorang dari kalangan umat ini mendengar tentang diriku, baik dia seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian dia mati dalam keadaan belum beriman kepada agama yang aku di utus untuk menyampaikannya, melainkan ia termasuk ahli neraka”. (HR. Muslim).

Dalam bab terdahulu telah di sebutkan kalau iman itu bertambah dan berkurang, oleh karena itu kita harus sekuat tenaga dalam memeliharanya. Untuk itu agar seorang insan yang muslim dapat memelihara iman yang di anugerahkan oleh Allah kepadanya , haruslah ia memelihara pokok pokoknya. Dalam hal ini Aidh Abdulah AL-Qarni memberikan beberapa arahan bagi kita untuk menjaga iman, diantaranya:

1.      Memelihara hal-hal yang di fardhukan.
Shalat merupakan hal fardhu yang paling besar. Allah ta’ala telah berfirman:

إنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (An-Nisa:103)

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ
”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (Al-Ankabut:45)
Mula-mula fardhu yang harus kita lakukan ialah shalat, dan mula-mula yang hilang dari agamaadalah shalat. Oleh karena itulah Nabi Saw, dalam hadits yang shahih pernah bersabda;
Parameter iman seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
 itu rasulullah juga telah bersabda;
“Janji yang tertuangkan antara kita dengan mereka adalah (mengerjakan) salat. Untuk itu, barang siapa yang meninggalkannya, maka sesungguhnya dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)
Berdasarkan keterangan di atas hendaklah kita berusaha untuk menjaga dan memelihara shalat kita. Bukan hanya dari segi kuantitas tapi dari segi kualitasnya juga. Selain itu kita juga harus melaksanakan amalan fardhu lainnya.


2.      Memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah
Diantara penyebab yang adapat memelihara iman menurut pendapat kalangan ahli ilmu dan ahli keutamaan adalah memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah, baik yang berada di alam semesta (kauniah) maupun ayat-ayat Allah yang berada dalam kitab syariat-Nya (kauliyah).
Kalau kita mau mengamati jagad raya ini, bnyak hal yang bisa menunjukkan kita pada kekuasaan Allah, sebagaimana yang telah di sebutkan dalam firman-Nya:


أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ, وَإِلَى السَّمَاء كَيْفَ رُفِعَتْ, وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ, وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia di ciptakan, langit bagaimana ia di tinggikan, gunung-gunung bagaimana ia di tegakkan, dan bumi bagaimana ia di hamparkan?” (Al-Ghasiyah:17-20)

Ayat di atas sebenarnya merupakan tantangan bagi kita untuk meneliti lebih jauh berbagai fenomena alam yang ada di hadapan kita. Yang kesemua-Nya akan bermuara pada satu titik, yaitu pengakuan akan kebesaran dan kuasa-Nya. Jika hal yang demikian kita lakukan Insya Allah akan menjadi salah satu cara memelihara iman kita.

3.      Mengerjakan amalan sunnah
Dalam kitab Shahih Muslim di sebutkan sebuah hadits melalui rabiah ibnu malik al-Aslami yang telah mengtakan: “Wahai Rasulullah, aku memohon kepadamu untuk dapat menemanimu di surga.” Rasul bertanya: “Adakah permintaan lainnya?” Rabiah menjawab: “Hanya itu permintaan saya.” Rasulullah menjawab:

Maka bantulah aku untuk keperluannmu itu dengan banyak bersujud.” (HR. Muslim)

Dalam kitab yang sama di sebutkan pula melalui Tsauban:

“Karena sesungguhnya tidak sekali-kali engkau melakukan sekali sujud kepada Allah, melainkan Dia meninggikan kedudukanmu karenanya satu derajat.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, jalan menuju surga di gelar dengan hal-hal yang di sunnahkan.
Sementara itu dalam Shahih Bukhori di sebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda menyitir firman Allah SWT. dalam hadits Qudsi-Nya:

“Tidaklah sekali-kali hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amal perbuatan yang lebih baik daripada apa yang telah Kufardhukan atas dirinya dan hamba-Ku masih terus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan hal-hal yang di sunnahkan hingga Aku menyukainya. Apabila aku telah menyukainya, aku akan menjadi pendengarannya yang dengannnya ia mendengar dan menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat.” (HR. Bukhori)

Berbekal keterangan di atas, dapat kita simpulkan kalau memperbanyak amalan yang sunnah dapat di jadikan sebagai sarana untuk memelihara iman kita. WAllahu a’lam bi shawab.

1 komentar: